
John Michael Nchekwube Obinna dikenal juga dengan John Obi Mikel pemain berkebangsaan nigeria yang berposisi sebagai gelandang dan mantan pemain chelsea. Sempat mengungkapkan kembali kisah lama soal keputusan menolak Manchester United demi bergabung dengan Chelsea hampir dua dekade lalu. Menurut Mikel, pelatih legendaris Man United, Sir Alex Ferguson, hingga kini masih menyimpan rasa kekesalan atas keputusan tersebut. Walaupun begitu, gelandang asal Nigeria itu justru memilih pindah ke Stamford Bridge. Keputusan yang kala itu dianggap berani bahkan kontroversial ternyata menjadi titik balik besar dalam kariernya.
Awal Konflik: Perebutan Tanda Tangan
Masalah bermula pada tahun 2005, ketika John Obi Mikel masih berusia 18 tahun dan bermain untuk klub Norwegia, Lyn Oslo. Saat itu, Manchester United secara terbuka mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan untuk merekrut Mikel. Bahkan, Sir Alex Ferguson sudah mempresentasikan Mikel sebagai calon pemain baru Setan Merah di hadapan media.
Namun situasi berubah drastis. Mikel secara mengejutkan membantah telah menandatangani kontrak dengan Manchester United. Ia mengklaim tidak pernah memberikan persetujuan resmi dan merasa berada di bawah tekanan agen. Di tengah polemik tersebut, Chelsea muncul dan akhirnya resmi mendapatkan tanda tangan Mikel setelah melalui proses hukum yang panjang dan rumit.
Kekecewaan Sir Alex Ferguson
Keputusan Mikel bergabung dengan Chelsea jelas membuat Sir Alex Ferguson murka. Bagi sang manajer legendaris, tindakan Mikel dianggap sebagai bentuk pengkhianatan dan mempermalukan klub di depan publik. Sir Alex dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi loyalitas dan komitmen pemain, sehingga kasus ini meninggalkan luka mendalam.
Dalam pengakuannya, Mikel menyebut bahwa meski bertahun-tahun telah berlalu, ia merasa Sir Alex masih menyimpan rasa kecewa dan tidak pernah benar-benar melupakan kejadian tersebut.
Kisah John Obi Mikel dan Sir Alex Ferguson menjadi salah satu cerita paling kontroversial dalam sejarah transfer sepak bola Inggris. Ini adalah pengingat bahwa sepak bola bukan hanya soal taktik dan trofi, tetapi juga tentang emosi, kepercayaan, dan harga diri. Hingga kini, bayang-bayang keputusan di masa muda itu masih melekat dalam perjalanan karier John Obi Mikel.






